Meski telah beberapa tahun berselang, namun kisah itu masih ada di kepalaku. Ketika mengingatnya seperti memutar sebuah video. Yah, video yang sedikit buram dan gambarnya pun sedikit patah-patah. Tapi masih terasa segar di ingatan.
Kala itu, di surabaya waktu istirahat kantor. Seperti halnya para karyawan kantoran, perut saya sebagai orang lapangan pun kelaparan.
Tak perlu bingung mencari makan yang murah namun meriah jika kita bersama seorang sopir. Percayalah, mereka sangat tahu dimana tempat makan yang murah namun pas di lidah. Tak perlu banyak komando, cukup dua kata, “Pak Lapar..” dan mobil pun melaju menuju sebuah warung tenda disebuah halaman kantor.
Warung tenda itu kecil namun rame tak terbayang. Mungkin karena warung tenda itu terasa sejuk dinaungi pohon beringin raksasa pikirku saat itu. Bahkan saat kurasakan soto ayam yang ku pesan, aku masih belum menemukan alasan mengapa warung ini sangat rame. Karena rasanya pun bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya terasa enak, tanpa “maknyus”.
Selesai menghabiskan semangkok soto dan sepiring nasi, aku mencari tisu sekedar menghilangkan jejak-jejak di mulut. Dan disinilah keuntungan kedua kerja bersama sopir, karena dengan tanggap bapak sopir langsung mencari kan tisu yang ternyata tak ditemukan dimanapun. Bahkan, saat ditanyakan ke Ibu pemilik warung, Ibu itu cuma menggeleng.
“Aku ambilin di mobil Pak.”
Begitulah reaksi bapak sopir ketika mendapat gelengan kepala dari ibu pemilik warung. Aku cuma mengangguk dan tersenyum.
Namun, senyum ku berubah menjadi ekspresi kaget ketika suara yang cukup keras terdengar.
“Wah Bu, mana nih tisu-nya! Pelit amat! Nyari untung sih nyari untung Bu, tapi jangan pelit gini dong! Masa tisu aja gak punya!”
Suara itu berasal dari seorang bapak yang baru saja selesai makan. Dengan sedikit kasar, dia membayar dan pergi.
Tanpa kusadari, bapak sopir sudah duduk di depanku dan nyeletuk.
“Iya sih, Ibunya kok gak nyediain tisu. Tapi ya gak harus teriak-teriak gitu mintanya.”
Aku cuma bisa tersenyum mendengar komentar bapak sopir dan melanjutkan tegukan es teh manis. Setelah istirahat sejenak, aku pun menuju sang Ibu penjual untuk membayar.
“Berdua Lima Belas Ribu Dek.”
Itulah kata yang keluar dari bibir Ibu penjual itu yang terus terngiang di kepalaku.
Yah, akhirnya aku tahu alasan kenapa warung tenda kecil itu sangat rame. Namun lebih dari itu, ada hal lain yang masih membuatku terngiang.
Dengan harga yang sangat murah itu, masih ada pembeli yang menuntut lebih!
Berapa besar keuntungan Ibu penjual itu per porsi? Dan seberapa banyak yang diminta oleh bapak pembeli tadi?
Mungkinkah itu sifat dasar manusia yang selalu menuntut lebih dari yang ia telah berikan?
Di kepalaku hanya ada pertanyaan-pertanyaan itu.
Saat mobil yang kutumpangi menjauh dari warung tenda kecil itu, mataku masih lekat ke wajah Ibu penjual. Dan dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, jauhkanlah hamba-Mu dari sifat yang tamak dan juga kikir..”
salam senyum
:ngarasan:

Komentar terkini..